ARTIKEL CADEL
Nama : Dhea Ami Valensy
NIM :A1D117032
E-mail : Valensydhea@gmail.com
PENGANTAR
Cadel atau cedal atau pelo
merupakan ketidakmampuan seseorang untuk mengucapkan suatu huruf, sehingga akan
mengucapkan suatu huruf menjadi huruf lainnya (yang paling umum adalah
mengucapkan 'R' menjadi huruf 'L'). Fenomena yang berhubungan dengan ini
disebut juga Rhotacism. Ketidakmampuan ini umumnya dialami pada usia anak-anak.
Namun ada pula orang yang cadel hingga usia dewasa.Cadel ini merupakan ketidakmampuan lidah salah satu yang
berperan penting pada saat kita berbicara melafalkan huruf dan kata. Fungsi
lidah sangat dipengaruhi oleh kekuatan lidah dan fungsi koordinasi
Sejak dulu banyak orang
beranggapan bahwa cadel disebabkan karena lidah yang pendek. Sebenarnya, tidak
ada istilah lidah tebal dan pendek. Ini karena panjang lidah untuk setiap orang
tidaklah ada perbedaan yang drastis. Sebenarnya bukan disebabkan oleh lidah
yang pendek, tetapi adanya perbedaan pada bagian yang dinamai frenulum linguae,
yang menyebabkan gangguan sulit melafalkan salah satu huruf, atau lebih dikenal
dengan istilah cadel.
PEMBAHASAN
Konsep yang mendasari
penelitian ini yakni Rhotacism atau cadel merupakan gangguan berbahasa yang termasuk gangguan
penyakit organik. Pada anak usia balita,hal ini dianggap wajar karena
perkembangan organ artikulasinya belum sempurna. Lain halnya pada orang dewasa
yang seluruh organ tubuhnya termasuk organ artikulasinya juga telah mengalami
tahap sempurna dalam perkembangannya (Sidabutar, 1994:25).
hotacism refers to the
occurance of [ r ] in place of some other speech sound(Hartmann dan Stork 1971
: 198). Yang berarti Rhotacismmengacu pada terjadinya [r] di tempat beberapa
bunyi ujaran lain. Kemudian Garner (2009:66)menjelaskan bahwa Rhotacism denotes
the imperfect sounding of [r]as by making it [l]. Yang berarti Rhotacis menunjukkan
ketidaksempurnaan bunyi [r] sehingga
menjadi bunyi [l].Dapat ditarik kesimpulan bahwa Rhotacismadalah ketidakmampuan
mengucapkan bunyi[r]sehigga berubah menjadi bunyi [l]. Untuk mengucapkan bunyi[r]
diperlukan manipulasi yang cukup kompleks antara lidah,langit langit, dan bibir.
Penyebab
Timbulnya Rhotacism/cadel
a.
Gangguan artikulasi (disartria)
Menurut Sidiarto(2009)dari FKUIRSCM,
Jakarta, cadel adalah salah satu bentuk disartria yaitu sebutan untuk gangguan
artikulasi (pengucapan kata) yang disebabkan oleh gangguan struktur atau
gangguan fungsi dari organ artikulasi. (Perwira, 2000:5) mengatakan disartriaadalah
gangguan bicara yang diakibatkan cidera neuromuscula Gangguan bicara ini
diakibatkan luka pada sistem saraf, yang pada gilirannya mempengaruhi bekerja
baiknya satu atau beberapa otot yang diperlukan untuk berbicara. Cadel dapat
disebabkan oleh gangguan struktur kelainan pada otot yang terdapat di bawah
lidah. Adanya kelainan otot tadi Dapat menyebabkan gerakan idah menjadi kurang
baik.
Diskoordinasi antara
gerakan otot - otot pernapasan, otot-otot pita suara dan lidah bermanifestasi
pada pengucapan kata-kata dalam kalimat yang tersendat- sendat, kurang jelas
dan banyak kata-kata yang ditelan. Gangguan artikulasi kata-kata dan gangguan
irama berbicara itu dinamakan disartria. Daerah seleblar (hemisferium serebri) berhubungan
erat dengan korliks selebr , terutama mengenai gerakan tangkas otot-otot di
kepala dan leher. Karenanya disartriaakan timbul juga akibat kerusakan hemis ferium
serebeli (Sidharta, 1986:82). Scanning speech atau disartriialah akibat inkordinasi
otot-otot yang digunakan untuk berbicara (Munandar, 1986:65).
Macam-macam artikulasi diuraikan
dalam bagian pembentukan bunyi-bunyi ujar memberikan kriteria bagi penggolongan
semua bunyi menjadi dua golongan yang besar, yaitu vokoid dan kontoid.Chaer
(2009:38) menyatakan vokoid adalah jenis bunyi bahasa yang dihasilkan oleh arus
ujar dan ke luar dari glotis tidak mendapat hambatan dari alat ucap, melainkan
hanya diganggu oleh posisi lidah. Sementara itu, kontoid diartikan sebagai
bunyi yang dihambat ketika pengucapannya, sehingga menyebabkan bergetarnya
salah satu alat-alat supra glotal (Samsuri, 1985:103).
Untuk dapat mengucapkan kata-kata
sebaiknya, sehingga bahasa yang didengar dapat ditangkap dengan jelas dan tiap
suku kata dapat mendengar secara terperinci, maka mulut,
lidah, bibir, plataum mol dan pita suara serta otot-otot pernafasan harus melakukan
gerakan tangkas.
b. Ankyloglossia
atau tongue tie
Ankyloglossia merupakan kelainan anatomi
yang membuat lidah menjadi terganggu fungsinya sehingga sering disebut sebagai tongue-tie.
Setiap orang memiliki frenulum lingualisyang terletak di bawah lidah. Frenulum ini
merupakan membrana mukosa
yang menghubungkan antara lidah dengan lantai dasar rongga mulut (Langlais dan
Miller,2001:45.
Menurut
Laskaris(1986: 6) Ankyloglossia or tongue-tieis a rare developmental
disturbance in which the lingual frenum isshort or is attached close to the
tip of the tongue.
Yang berarti ̳Ankiloglosia atau lidah dasi, adalah gangguan perkembangan yang
langka dimana frenum lingual pendek atau terpasang dekatdengan ujung lidah‘
Ankyloglossia atau
tongue tie adalah suatu kondisi patologis dimana frenulum
lingualistidak melekat dengan tepat ke lidah. Keadaan kongenital ini
ditandai oleh frenulum lingualis yang pendek dan salah posisi, serta lidah yang
tidak dapat dijulurkan atau ditarik masuk. Ankiloglosia menyebabkan gangguan ketika
berbicara, terutama pada saat pengucapan bunyi[r] karena pada saat pengucapan bunyi
tersebut membutuhkan aktivitas lidah yang tinggi (Langlais dan Miller,
2001:46).
Ankyloglossia atau tongue
tie ini terjadi ketika frenulum lingualis pendek, ketat, tebal, fibrotik atau
posisinya terlalu jauh ke depan sehingga pergerakan dan fungsi lidah menjadi
terganggu. Lidah tidak mampu menjulur melampaui gusi dan bibir bawah serta gerakan lidah menjadi terbatas.
Faktor penyebab cadel
faktor psikologis dan
cadel karena faktor neurologis. Cadel yang disebabkan faktor neurologis berarti
disebabkan adanya gangguan di pusat bicara. Untuk mengatasinya, anak dengan
gangguan ini harus segera dibawa ke neurolog. Pada prinsipnya, gangguan ini
masih bisa ditangani. Namun bila kerusakannya termasuk parah, bukan tidak
mungkin akan terbawa
sampai dewasa.
Cadel yang kedua
adalah cadel yang disebabkan faktor psikologis. Karena kehadiran adik, contohnya,
maka untuk menarik perhatian orang tua, anak akan menunjukkan kemunduran
kemampuan bicara dengan menirukan gaya bicara adik bayinya. Untuk mengatasinya,
orang tua harus menunjukkan bahwa perhatian padanya tidak akan berkurang karena
kehadiran adik.
Cadel Pada Anak Strategi Fonologis
Ingram dalam kajiannya
mengenai strategi fonologis pada tuturan anak-anak dilakukan oleh Ingram dan
memperoleh setidak-tidaknya kategori berikut: (1) pengulangan konsonan dan
vokal pada kata multisilabel, (2) penghilangan silabe tak bertekanan, (3)
penggantian frikatif dengan konsonan hambat, (4) menghilangkanan konsonan, (5)
menghilangkan konsonan akhir, (6) menggantikan konsonan kluster menjadi
konsonan tunggal (Berg, 1994:362-363). Penelitian tersebut dilakukan di Barat.
Menurut teori kontras maksimal Jakobson
(1971:24), untuk memperoleh bentuk-bentuk kata dalam bahasa ibunya, anak
“memilih” dua macam bunyi yang manifestasi artikulatorisnya sangat jauh
berbeda. Antara konsonan [p, b] terjadi pengembangan menjadi nasal [m] dan oral
[p,b]. Oral [p,b] berkembang menjadi bilabial dan dental, sehingga diperoleh
[p, b] dan [t, d]. Lebih lanjut Fikkert (1998:166) menyatakan bahwa
kompleksitas segmental meramalkan urutan pemerolehan. Oleh karenanya, bunyi [r]
umumnya diperoleh belakangan.
Dalam usahanya memperoleh
bentuk kata, anak umumnya memulai dengan lafal-lafal sederhana. Beberapa bunyi
yang sulit, didekati dengan bunyi-bunyi yang lebih sederhana. Pemerolehan
bentuk kata tersebut agaknya berkaitan erat dengan hukum bunyi yang dinamakan laws
of irreversible Solidarity (lebih lanjut lihat Simanjuntak, 1990;
Dardjowidjojo, 2001:23).
DAFTAR PUSAKA
Dardjowidjojo, Soenjono. 1991.
“Pemerolehan Fonologi dan Semantik pada Anak : Kaitannya dengan Penderita
Afasia” dalam Pellba 4 : Linguistik Neurologi.(hal.63-79). Yogyakarta : Kanisius
Dardjowidjojo, Soenjono. 2000. Echa :
Kisah Pemerolehan Bahasa Anak Indonesia.
Jakarta : PT Gramedia Widiasarana Indonesia.
Fikkert Paula. 1998. “The
Acquisition of Dutch Phonology”dalam Gillis and De Houwer. 1998.
Hyman, Larry M. Phonology
: Theory ang Analysis.Fort Worth : Holt, Rinehart and Winston, Inc.
Jocobson, Roman.1971.
Studies on Child Language and Aphasia. Mouton Publisher.
Lambert, Wallace E. 1972.
Language, Psychology, and Culture.California : StanfordUniversity, Press.
Musfiroh. 2001. Pemerolehan
Kata Anak Usia 18 hingga 36 Bulan (Sebuah Studi Kasus).Yogyakarta :
Pascasarjana Universitas Gadjah Mada. Tesis, tidak diterbitkan
Komentar
Posting Komentar